Hutan merupakan kawasan yang ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang didominasi oleh pepohonan dengan luasan tertentu. Masuknya kepentingan manusia seperti pengambilan hasil hutan karena tekanan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang semakin besar, mengakibatkan pengambilan hasil hutan semakin intensif. Tentunya dengan semakin banyaknya penduduk yang tergantung pada hutan tidak menutup kemungkinan untuk semakin besarnya peluang kerusakan pada hutan dan hal inilah yang terjadi pada wajah hutan Indonesia. Dengan kegiatan yang tanpa sengaja dapat merusak hutan yang dilakukan oleh para penduduk didalam hutan seperti meninggalkan bekas api unggun yang membara di hutan, pembuatan arang di hutan, membuang puntung rokok sembarangan di hutan, dapat menyebabkan kerusakan hutan lebih jelasnya kebakaran hutan dan dengan adanya kebakaran hutan menyebabkan tanah menjadi kering dan tentunya dapat menyebabkan kekurangan air pada lahan yang terkena kebakaran.
Ketika tanah kekurangan air atau bahkan tidak ada kandungan air menyebabkan tanah memerlukan massa istirahat atau dengan kata lain tanah belum bisa ditanami apapun karena tanah masih belum mampu memberikan hara dan air untuk pertumbuhan tanaman dan masa inilah yang disebut dengan Masa Bera. Pada masa bero ini lahan tidak memberikan manfaat dan tentunya tidak dapat memproduksi apapun karena harus dalam masa pemulihan untuk menjadi sedia kala. Dengan adanya masa bero ini tentunya dapat menurunkan keanekaragaman tanah seperti unsur hara yang ada didalamnya hilang ssehingga akan menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan pastinya akan berdampak pada produktivitas tanah. Lahan seperti ini tentunya harus ada pengatasan untuk memulihkannya kembali seperti sedia kala.
Sebagai tempat pengembalaan ternak merupakan salah satu cara untuk mempercepat peningkatan kesuburan tanah. Dengan adanya ternak yang dijemur atau mencari makan dilahan yang mengalami masa bero tentunya mereka akan mengeluarkan kotoran. Dan dari kotoron hewan inilah akan mampu menghasilkan pupuk kompos yang tanpa sengaja akan menjadikan lahan dalam masa bero akan pulih kembali seperti sedia kala dan tentunya akan meningkatkan kesuburan tanah. Pada waktu 2-4 bulan tanah masa bero dibiarkan dengan sendirinya dan tentunya dengan hunian ternak mampu meningkatkan lagi fungsi tanah akan tetapi belum bisa maksimal seperti sebelum adanya lahan yang rusak. Akan tetapi dengan adanya cuaca yang mendukung disaat terjadi masa bero seperti hujan menjadi salah satu faktor penentu cepatnya kesuburan dan fungsi tanah seperti sedia kala. Hal-hal diatas merupakan strategi manajemen lahan untuk memulihkan daya dukung tanah tersebut.
Dalam penelitian masa bera pada sistem agroforestri, Pengaruh langsung dari keberadaan tajuk dalam sistem agroforestri adalah luas naungan dan intensitas cahaya dalam sistem tersebut. Cahaya sebagai sumberdaya yang tak dapat disimpan sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanaman semusim khususnya dalam bidang olah. Cahaya yang cukup memungkinkan bidang olah untuk menghadirkan komponen tanaman semusim, begitu sebaliknya. Menurut Suryanto (2005) keberhasilan sistem agroforestri sangat ditentukan dalam manajemen cahaya sehingga budidaya sistem agroforestri sama dengan budidaya cahaya sehingga hal yang terkait disini adalah kepadatan tajuk(Crown density) dan transparansi tajuk (Foliage transparancy). Kedua kunci ini sifatna saling berkebalikan yaitu apabila nilai kepadatan tajjuknya maka nilai transparansi tajuk akan turun dan begitu juga sebaliknya. Kecenderungan kepadatan tajuk yang berpengaruh terhadap kondisi bera dalam sistem agroforestri dapat disimpulkan dengan rumus Y = 0,747Ln(X) + 1,7899 dengan Y adalah kepadatan tajuk dan X adalah luas lahan. Pada berbagai situasi bera sangat nyata perbedaan status cahanyanya, sistem agroforstri semakin mengarah pada kondisi bera berat maka akan dicirikan dengan semakin rendahnya intensitas cahaya dan semakin ringan tingkat bera maka akan mempunyai intensitas cahaya yang lebih tinggi. Kecenderungan intensitas cahaya pada setiap model bera dapat disimpulkan dengan rums Y = 109386e^-1,3466X dengan Y adalah intensitas cahaya dan X adalah luas lahan.
Penelitian Nuripto dan Ginting (1996) pada masyarakat adat Benuaq di Kalimantan Timur melaporkan bahwa siklus masa bero atau masa mengistirahatkan lahan 1-2 tahun menghasilkan boaq yang merupakan suksesi pertama setelah masa tanam. Masa bero 5-10 tahun pada lahan disebut Klaka tuhaq yaitu suksesi yang ditandai hadirnya tanaman pioner berdiameter 20-30 cm, hingga mencapai bengkar atau hutan tua bila telah mencapai lebih dari 100 tahun.
Jika dalam hutan sekunder masa bera dapat diklasifikasikan berdasarkan umur hutan sekunder tersebut maka dapat dikelompokkan seperi dibawah ini yakni :
1. Hutan sekunder tua dengan masa bera 10-15 tahun
2. Hutan sekunder muda dengan masa bera 5-10 tahun
3. Hutan sekunder termuda dengan masa bera < 5 tahun.
Sabtu, 30 Maret 2013
“Perladangan Berpindah dan Perambahan Hutan”
Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai iklim tropis yang sangat menguntungkan bagi masyarakatnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dari keuntungan ini masyarakat Indonesia sangat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di bangsa yang penuh dengan keanekaragaman hayati ini. Pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) dibutuhkan suatu kearifan dan menjaga keseimbangan; pilihan yang lestari, untuk memenuhi kebutuhan sekarang maupun generasi mendatang. Dalam pemanfaatan sumberdaya alam seperti lahan pertanian diperlukan perencanaan dan penanganan yang tepat dan bertanggung jawab, agar lahan tersebut tidak terdegradasi dan tetap memberikan keuntungan. Degradasi lahan untuk tanah-tanah tropis umumnya disebabkan oleh erosi. Penanggulangan erosi telah banyak dilakukan dan dikembangkan melalui tekonologi-teknologi konservasi tanah dan air. Perladangan berpindah (shifting cultivation) merupakan satu diantara yang menerapkan teknologi konservasi dalam pertanian yang lebih berintegrasi dengan sistem alami.
Perladangan berpindah (Shifting cultivation) merupakan suatu sistem yang dibangun berdasarkan pengalaman masyarakat dalam mengolah lahan dan tanah yang dipraktikkan secara turun menurun. Pada umumnya di Kalimantan ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum melakukan perladangan berpindah diantaranya Internal meeting, tahapan ini merupakan tahap awal yang akan dilakukan pleh penduduk suatu daerah atau pemukiman. Mereka akan melakukan pertemuan untuk bermusyawarah untuk melakukan perladangan berpindah secara bersama-sama. Setelah menemukan mufakat tahapan kedua yaitu Eksternal meeting, pada tahapan ini mufakat suatu pemukiman akan melakukan pertemuan dengan pemukiman atau kampung lain untuk berdiskusi. Pada tahapan kedua ini dilakukan untuk menghindari overlapping area dan mencegah berbagai hal-hal yang tidak diinginkan dengan kampung tetangga. Tahapan selanjutnya yaitu upacara penanaman padi. Hal ini pada umumnya memerlukan sesajen sebagai persembahan pada penghuni ladang yang akan dibuat, hal ini terjadi karena mereka masih menganut kepercayaan mereka. Setelah tahapan ini selesai maka tahapan selanjutnya pembukaan lahan, pada tahapan ini kegiatan pembukaan areal hutan atau gunung dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat sesuai mufakat yang telah dilakukan sebelumnya. Tahapan selanjutnya pembakaran kawasan yang akan dijadikan lahan perladangan. Pembakaran pada umumnya dilakukan secara hati-hati oleh masyarakat agar api tidak merambah pada area atau hutan yang masih alami.tahapan selanjutnya yaitu penanaman, sebelum penanaman telah melakukan penaburan benih awal di tempat lain sehingga bibit siap di tanam.selanjutnya yaitu Maintenance, pada tahapan ini melu=iputi pembersihan rumput dan gulma lainnya agar pertumbuhan tanaman yang ditanam menjadi lebih baik. Pada tahapan selanjutnya yang selalu ditunggu oleh masyarakat perladangan berpindah yaitu panen dan pada umunya setelah panen masyarakat akan melakukan pesta. Setelah lahan area umurnya tua maka tahapan selanjutnyaakan ditanam pohon lokal seperti Shorea spp.
Untuk mengatasi pengaruh buruk pengolahan tanah, maka dianjurkan beberapa cara pengolahan tanah konservasi yang dapat memperkecil terjadinya erosi. Cara perladangan berpindah dengan :
1. Tanpa olah tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa-sisa tanaman sebelumnya dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman. Penanaman dilakukan dengan tugal
2. Pengolahan tanah minimal, tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah dan sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah
3. Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah atau dengan melintangkan pohon yang tidak terbakar (logs) dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng. Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah.
Berbagai hasil penelitian, dengan dasar yang berbeda, akan menghasilkan suatu yang positif dan negatif. Beberapa contoh dampak dari perladangan berpindah diantaranya. Terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa hampir 100 % sungai yang terdapat pada pulau-pulau kecil mengalami penurunan debit air yang drastis, bahkan pada musim panas banyak sungai mengalami kekeringan. Selain itu pada musim hujan, selalu terjadi banjir dan erosi yang mampu mengikis dan mengangkut ribuan ton tanah permukaan ke sungai dan laut sehingga terjadi pendangkalan sungai dan gangguan ekosistem laut. Selain itu dampak dari perladangan berpindah ini adalah Terjadi penurunan drastis kesuburan tanah. Kondisi di lapangan menunjukan bahwa bekas-bekas areal berladang telah menjadi semak belukar ataupun padang alang-alang. Pada pulau-pulau kecil dengan kondisi ekosistem yang miskin vegetasi atau lahannya terbuka maka ketika musim hujan, banyak lapisan tanah permukaan yang terkikis dan hanyut, sehingga kondisi kesuburan tanah menjadi menurun. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi kesuburan tanah secara umum pada daerah-daerah terbuka berbeda 40 – 60 % terhadap lahan hutan primer. Tidak hanyai itu namun dapat Terjadi perubahan iklim dan yang paling drastis adalah kondisi iklim mikro dimana suhu meningkat rata-rata sebesar 1 – 3 oC dengan penurunan kelembaban relatif sebesar 5 – 10 %. Selain itu dari aspek iklim makro telah terjadi perubahan pola musim, dimana musim hujan dan musim panas sudah tidak konstan sesuai kalender musimnya. Dampak adanya perladangan berpindah selajutnya mampu menciptakan gangguan habitat satwa, dimana lebih disebabkan oleh perubahan kondisi vegetasi sebagai akibat perladangan berpindah dan hal ini berpengaruh signifikan terhadap habitat satwa. Akibatnya ekosistem hutan yang sebelumnya merupakan tempat makan, minum, bermain dan tidur menjadi terganggu, sehingga satwa cendrung bermigrasi ke tempat lain, ataupun memilih tetap bertahan dengan kondisi cover yang terganggu. Dan juga mampu menurunkan biodiversitas, yang secara umum disebabkan perladangan yang dilakukan dengan cara tebang habis dan bakar sehingga banyak spesies langka atau endemik juga ikut musnah. Sampai sejauh ini walaupun belum diteliti dampak perladangan terhadap kepunahan spesies, namun dari pendekatan Indeks Shannon-Wienner menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai keragaman spesies pohon sebesar 10 % dibandingkan hutan primer yang berada disekitar lokasi penebangan. Hal ini disebabkan beberapa spesies pohon toleran (kurang butuh cahaya) cenderung menghilang dari habitatnya sebagai akibat meningkatnya intensitas cahaya.
Beberapa cara mengatasi berbagai dampak yang disebabkan oleh perladangan berpindah diantaranya membuat pemerintah pusat maupun daerah untuk menangani permasalahan laju perladangan berpindah terlebih dahulu, agar dapat disusun perencanaan yang tepat dan terarah dalam rangka penanggulangannya. Karena apapun juga pemerintah telah diperhadapkan dengan realitas kondisi bahwa perladangan berpindah memiliki korelasi kuat dengan kerusakan ekosistem. Selanjutnya dapat juga dengan regulasi berupa peraturan daerah yang dapat mengatur tentang pelaksanaan dan pengendalian laju peningkatan praktek perladangan. Hal ini sangat penting agar para peladang dapat memahami secara jelas tentang batasan-batasan dan prosedur praktek perladangan yang menjamin kelestarian ekosistem. Selanjutnya sebagai konsekuensi dari adanya peraturan daerah berarti akan diatur pula sanksi-sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi sehingga praktek perladangan dapat dilakukan secara terkontrol. Cara lain dengan Pengembangan model agroforestry. Menurut teori bahwa perladangan berpindah hanya dapat diatasi dengan 3 model utama, yaitu pengalihan profesi peladang, pengembangan model pertanian menetap dan model agroforestry. Berdasarkan ke 3 model ini, bila dikaji lebih jauh ternyata bahwa model pengalihan profesi tidak berhasil karena persoalan budaya. Aktivitas berladang telah dianggap sebagai budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. Selain itu pertanian menetap juga sulit untuk diterapkan karena membutuhkan modal (input) yang besar bagi penerapannya. Sementara itu model agroforestry nampaknya mudah dan sederhana untuk diaplikasi karena membutuhkan hanya sedikit modal, tetapi hutan yang akan terbentuk nanti selama masa bera adalah hutan yang nanti memiliki nilai ekonomi dan konservasi yang tinggi. Cara terakhir adalah peningkatan kapasitas sumberdaya manusia untuk mendukung aplikasi ke 3 model utama pengendalian perladangan diatas. Untuk itu pendidikan, training dan latihan bagi peladang untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sangat dibutuhkan bagi kerberhasilan pelaksanaan dari model yang ditawarkan nanti.
Realita telah menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem hutan salah satu penyebabnya adalah perladangan berpindah. Terdapat banyak hutan alam telah berubah menjadi ladang bahkan pada pulau-pulau kecil tertentu, sudah tidak dijumpai hutan. Kebanyakan hutan hanya dijumpai dalam bentuk spot-spot hutan sekunder. Oleh karena itu maka tiada kata lain untuk melakukan langkah-langkah pengendalian hutan secara lestari agar generasi selanjutnya dapat melihat hutan yang dapat dimanfaatkan secara Sustainable.
Kamis, 14 Juni 2012
Goresan Pena Mahasiswa
Mahasiswa. Sebuah prestise tersendiri yang memberikan kebanggaan bagi mereka yang menyandangnnya. Posisi tersebut memberikan ruang yang begitu luas untuk membuat sebuah perubahan besar. Kata “maha” sungguh luar biasa maknanya karena dari sisi jumlah hanya sedikit dari kelas sosial di masyarakat secara umum. Adalah sebuah konsekuensi logis dari masyarakat bahwa setiap mahasiswa harus memberikan kebermanfaatan yang lebih besar dari amal dan karya yang diciptakan. Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang mampu meluruskan bengkokknya peradaban negeri ini yang telah dikooptasi oleh para komprador-komprador busuk. Dengan nilai moral sebagai suatu garis pembeda, suara mahasiswa lebih murni untuk meneriakkan kepentingan rakyat.
Akan tetapi, fakta hari ini bahwa mahasiswa seolah kehilangan jati dirinya sebagai perubah dan penerus estafet perjuangan di bumi pertiwi. Sifat hedonis, opurtunis, matrealistis, individualis, dan apatis menjadikan mereka jauh dari kehidupan rakyat kecil yang notabene menunggu suatu perubahan dari kaum yang telah “tercerahkan”. Ironis, bahwa raja adil yang masyarakat tunggu sebagai pembawa perubahan tidak kunjung hadir. Tatakala kehidupan rakyat semakin sulit, mahasiswa seolah tidak hadir dalam ruang kehidupan mereka. Seakan ada garis pembeda antara mahasiswa dan rakyat kecil. Mahasiswa semakin eksklusif dan sulit dijangkau. Agen perubahan hanya narasi basa-basi yang menjadi romantisme sejarah masa lalu.
Adakah yang salah dari mahasiswa saat ini. Keperkasaan mahasiswa sebagai “agen perubah” seperti macan ompong yang kehilang pijakan. Mahasiswa hari ini sudah tidak memiliki kemampuan dalam membaca realitas sosial kehidupan masyarakat secara lebih dekat sehingga tidak ada lagi kemampuan dalam membuat gerakan-gerakan yang bersifat cerdas dan masif untuk membuat transformasi sosial. Mahasiswa menjadi mandul dalam hal ide dan gagasan produktif untuk mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap masyarakat.
Pada titik ini, sebagai seorang mahasiswa penulis menyadari bahwa ada yang salah dari pola berfikir mahasiswa secara keseluruhan. Sistem yang ada menciptkan mahasiswa yang “cerdas” tetapi tidak “mencerdaskan”. Pola pikir pragmatis telah menyerang mahasiswa secara umum. Hal ini terlihat dari gejala mahasiswa yang fokus dengan nilai akademik tinggi dan lulus cepat kemudian bekerja dan dapat gaji yang tinggi. Tidak ada yang salah dari hal ini sejujurnya. Namun, di tengah kondisi bangsa yang sedang mangalami “kekacauan” dalam kerangka berfikir dan kehidupan sosial, ada tanggung jawab moral sebagai seorang mahasiswa untuk menjawab tantangan rakyat secara lebih konkrit. Dari awal berdirinya bangsa ini, mahasiswa merupakan garda terdepan dalam setiap perubahan arus zaman yang dilaluinya. Saat ini, ada beban peradaban yang diberikan rakyat kepada mahasiswa sebagai “kaum tercerahkan” untuk mengembalikan koridor kebangsaan pada jalur yang benar sesuai amanat konstitusi, kehidupan yang aman, rakyat yang cerdas dan sejahtera, serta keadilan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Tentunya, sesuai dengan kapasitas dan kapabilatas yang dimiliki sebagai seorang mahasiswa.
Membangun Budaya Intelektualitas
Mahasiswa merupakan kaum cendekia yang memiliki konsepsi dan kapasitas intelektual yang mapan. Artinya, “kaum tercerahkan” harus memiliki kemampuan bernalar yang kuat dengan rasionalitas yang tinggi sehingga mampu membaca realitas sosial yang terjadi di sekitar mereka. Matanya harus tajam melihat potret buram dari kondisi kehidupan yang marginal. Telinganya lebih peka terhadap jeritan rakyat. Tangannya tidak pernah berhenti berbagi. Kakinya tidak putus melangkah untuk membangun peradaban yang lebih baik bagi ibu pertiwi.
Intelektualitas menjadi tidak bermakna apabila dikooptasi untuk sekedar “prestise” diri. Nilai intelektual hanya akan tereduksi semakin jauh ketika mahasiswa hanya mencari gelar akademik an sich. Masih banyak variabel masalah sosial yang menunggu jawaban dari kaum cendikia. Untuk memperkuat kemapanan intelektualitas dan menjaga ritme common sense terhadap kondisi sekitar, tradisi mahasiswa seperti membaca, menulis, dan berdiskusi perlu digerakkan kembali secara lebih masif di kalangan mahasiswa sehingga kampus tidak menjadi menara gading yang sulit untuk dijangkau.
Mahasiswa merupakan komponen dari bangsa ini yang sejak awal dipersiapkan untuk memperbaiki jalannya roda kebangsaan. Jangan menjadi seorang pemimpin yang ketika amanah hadir dihadapannya lari sebelum selesai karena tidak siap memimpin sejak awal. Setiap bangsa yang besar hadir dari sebuah kecintaan rakyatnya yang begitu membahana terhadap negaranya. Dalam konteks keindonesian, rasa kepedulian terhadap sesama merupakan langkah awal menuju pemerataan kehidupan masyarakat secara utuh menuju keadilan sosial yang dicita-citakan bersama.
Dalam konteks pergerakan mahasiswa, ada trilogi gerakan yang dapat dilakukan meliputi gerakan vertikal, horizontal, dan diagonal. Gerakan vertikal dilakukan untuk melakukan kontrol dan penyeimbang terhadap pemangku kepentingan terhadap paket kebijakan yang dimaksudkan untuk mengatur kehidupan publik secara lebih luas. Entitas mahasiswa memiliki posisi tawar yang kuat dalam mengembalikan kehidupan publik yang dieksploitasi kelompok kepentingan agar tetap berada pada koridor konstitusi sosial yang telah disepakati sejak awal negeri ini berdiri. Posisi mahasiswa sangat menguntungkan karena sebagai kalangan terdidik dapat disejajarkan intelektualitasnya dengan pemangku kepentingan sehingga dapat diterima, di sisi lain mahasiswa merupakan kalangan yang oleh sebagian besar masyarakat disimbolkan sebagai kelas sosial tersendiri yang mampu membuat sesuatu menjadi berbeda.
Secara mekanisme, substansi gerakan vertikal dimaksudkan untuk menganalisis kebijakan yang memarjinalkan kehidupan publik secara struktural. Instrumen gerakan yang digunakan oleh mahasiswa antara lain membuka ruang kajian dan focus group discussion (FGD) secara periodik dan intens, audiensi untuk meminta pandangan kepada stekholder terkait yang memiliki perspektif berbeda, lobi dan negoisasi kepada pemangku kebijakan, advokasi terhadap keresahan bersama yang disesuaikan dengan harapan rakyat yang lebih besar. Jika semua saluran tertutup, maka aksi massa merupakan jalan terakhir untuk mengingatkan pemerintah agar segera kembali pada koridor kebangsaan yang benar. Dalam melakukan gerakan mahasiswa harus mengedapankan nilai intelektualitas dalam mensetting target, cerdas secara sistem, dan elegan dari sisi cara sehingga efektifitas dan efisiensi gerakan tetap terjaga dengan baik.
Sebagai penutup, penulis bermaksud menyampaikan bahwa mahasiswa merupakan kelas terdidik yang aktualisasi dirinya sedang ditunggu publik yang lebih luas. Transformasi sosial adalah sebuah keniscayaan sejarah ketika kemiskinan, kejahatan, dan konflik masih menjadi problem sosial yang belum kunjung terselesaikan. Pada titik ini, mahasiswa merupakan ujung tombak perubahan dari struktur masyarakat yang termarginalkan oleh kebijakan kaum penguasa. Dengan kapasitas intelektualitas, moral, dan nilai kebenaran yang dijungjung tinggi oleh seorang mahasiswa, aliran semangat menuju transformasi sosial begitu memuncak memenuhi seluruh aliran darah sehingga menimbulkan keyakinan yang begitu mendalam bahwa perubahan itu masih ada. Di tangan mahasiswalah pada akhirnya transformasi sosial dibebankan untuk segera ditunaikan menjadi amal dan karya besar sejarah. Wahai mahasiswa Indonesia, mari membuat Ibu Pertiwi bangga karena memiliki kita sebagai anak zamannya. Berubah atau mati...
Jumat, 18 Mei 2012
WAHAI MAHASISWA
Bangsa ini ternyata masih bermimimpi. Terlelap dalam kenyamanan status quo yang bangga dengan segala sumberdaya dan kebesaran potensinya. Reformasi seolah jalan ditempat, bahkan hampir mundur kebelakang. Perubahan hanya cerita usang yang lekang dipusara zaman. Bukan reformasi yang salah, tetapi kita sebagai anak zaman yang tidak mempersiapkan diri untuk membawa misi perubahan Indonesia yang lebih beradab. Semangat globalisasi membuat kita terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan rutinitas, sehingga mandul dalam megejawantahkan tujuan berbangsa dan bernegara. Misi reformasi ternyata masih menjadi basa-basi. Semua masih terlena dalam romantisme reformasi semu. Sebagai sebuah bangsa yang besar, Indonesia mengalami disfungsi akut yang membuatnya sulit bergerak menuntaskan amanat reformasi........
Fakta hari ini, Indonesia masih tenggelam dalam peta global. Tingkat korupsi yang tinggi, jumlah penduduk miskin yang hampir mencapai 31 juta. akses pangan yang sulit dan harganya sungguh melangit. Pengangguran terbuka dan pemiskinan struktural masih menjerat kehidupan rakyat. Liberalisasi ekonomi terhadap sumberdaya yang menjadi hajat hidup orang banyak. Kue ekonomi hanya dinikamati kalangan atas, sedang kaum papa semakin menderita sejadi-jadinya. IPM ( Indeks Pembangunan Manusia ) yang rendah menyuratkan bahwa sebagai bangsa Indonesia masih belum siap bersaing dalam percaturan global. Penegakan hukum yang tebang pilih seakan menyadarkan seluruh elemen bangsa ini bahwa Ibu pertiwi masih bersusah hati. Ketika uang dan kekuasaan telah berafiliasi dengan kepentingan, maka dengan mudah hukum dapat dipermainkan....
Belum tuntasnya amanat reformasi menjadi tantangan seluruh anak bangsa untuk bersama-bersama menyelesaikannya. KAUM MUDA "BUKAN" PECUNDANG yang lari ketika perjuangan baru saja dimulai. Bapak reformasi telah mewariskan perubahan ini kepada kita sebagai anak reformasi. Sebagai kaum muda yang berintelektual tinggi, mahasiswa harus menjawab tantangan zaman dalam sebuah kerangka berfikir besar untuk kejayaan Indonesia. MIMPI hari ini adalah kennyataan HARI ESOK. Maka, bermimpilah untuk menciptakan karya terbaik bagi bumi pertiwi...
Wahai Mahasiswa !!!
SAATNYA BANGKIT DAN BERKARYA untuk INDONESIA.
MENELUSURI HATI
>Mencoba tersenyum walau sebenarnya hati menangis
>Mencoba tertawa walau rasanya ada rasa kecewa
>Mencobaka Tegar walau sebenarnya Hati kian Bergetar
Aku merasakan ini sudah agak lama, tapi yang benar-benar ku rasakan sekitar tiga harian ini.
KALIMAT DI ATAS, Pembuka gerbang hatimu untukku, akupun menyusuri ke dalam gerbang hatimu memasuki taman yang dipenuhi keindahan. Dalam perjalanan menuju rumah hatimu, akupun bercerita semuanya yang ada dalam hatiku yang tidak semuanya mengetahuinya kecuali Allah SWT dan aku sendiri. Dalam perjalanan aku selalu membisikkan kata hati dan perhatianku. Setapak demi setapak pintu rumah hatimu semakin nampak jelas, kau pun membisikkan kata hatimu tentang rasamu padaku pintu rumah hatipun terbuka untukku. Dalam rumah hati, kau pun memberi perhatian padaku dan kata-katamu bak mentari sejukkan hatiku, hal ini membuatku bahagia seperti insan yang gila akan cinta. Pintu demi pintu aku lalui dengan cumbu bisikan cintaku padamu seperti halnya sebuah kunci untuk membuka pintu selanjutnya.
Akhirnya sampailah pada pintu lub hatimu, kaupun menusukku dengan pedang pertanyaan yang sangat tajam, akupun berteriak kesakitan ternyata didalam ruang hati lub ada seseorang yang sangat spesial bagimu. Kaupun menyuruhku keluar rumah hatimu dari pintu belakang yang sangat tidak hormat dengan mengatakan maaf. Kaupun menemaniku keluar dari pintu belakang. Sampailah pada pintu keluar, akupun melihat jurang kesedihan yang sangat curam didalamnya terdapat banyak paku kesedihan yang sangat tajam, kau pun mendorongku dengan bisikanmu “Lupakan semuanya, lupakan kata-katamu didalam lingkup hatiku, Belajarlah melupakanku dan rasamu padaku”, hingga akupun terjatuh kedalam jurang kesedihan, jantung dan hatiku pun terkena paku kesedihan yang sangat tajam. Kaupun melontarkan beribu-ribu maaf, aku hanya terdiam dan tersenyum disaat jantung dan hatiku terkena paku kesedihan yang menancap dalam dadaku.
Hari demi hari aku lalui didalam jurang kesedihan, akupun belum bisa mencabut paku ditubuhku. Aku pun mendaki tebing jurang kesedihan yang sangat curam dengan rintihan air mata yang sangat deras, sekarang aku masih bisa mendaki setengah tinggi jurang kesedihan, masih setengah tinggi jurang kesedihan yang harus ku lalui dengan membawa paku kesedihan yang menancap ditubuhku. Yang jelas setelah keluar dari jurang kesedihan, aku akan menuju depan gerbang hatimu, akan tetapi aku harus melalui beribu-ribu mil hutan kesedihan yang menungguku. Tapi aku yakin pasti sampai pada tujuanku.
Esensi dari cerita ini: CINTA SEJATI yang membuatku sabar dan tak mampu marah serta terus mendorongku untuk terus BANGKIT, BANGKIT DAN BANGKIT !!!
By : Muhammad Khoirul Mufid.
Bogor, 17 Mei 2012. Jam 22:43…….
Rabu, 16 Mei 2012
Menggapai Cinta Sejati
Menggapai Derap Cinta Sejati Tak semudah yang aku Bayangkan,,,
Banyak Rintangan yang Menghadang,,,
Janganlah Menyerah meskipun SERPIHAN hatimu BERSERAKAN tak Beraturan,,,
KUMPULKAN Serpihan Hatimu dan Teruslah Bangkit dari Kesenjangan Cintamu,,,
Tidak Peduli Berapa kali Kamu Jatuh Dari perjalanan Cintamu,,,
Yang Patut Kamu Pedulikan Berapa Kali Kamu BANGKIT dari Kesenjangan Cintamu,,,
YAKINLAH !!! PERJUANGAN Tanpa Henti akan Melahirkan Sesuatu Yang Sangat ISTIMEWA...
By : Muhammad Khoirul Mufid.
Bogor, 16 Mei 2012 jam 15:49 ...........
Rabu, 09 Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)


